Cerita Tentang Dorang di Tanah Ndugama, Nduga Papua

Oleh Ence Geong

Sudah Satu Bulan Lebih (Desember 2018 – Januari 2019) sangat banyak masyarakat Nduga mengungsi. Sebagian sudah tiba di Wamena, dan wilayah lainnya yang berbatasan dengan Kabupaten Nduga. Sudah banyak warga sipil yang meninggal dunia juga. Ada ibu hamil yang harus melahirkan di alam bebas tanpa atap dengan dingin yang mencekam.

Dari Distrik Yigi, Mbulmuyalma, Dal, Yal, Nitkuri, dll menuju ke Wamena atau ke Lani Jaya harus melewati daerah yang sangat dingin. Masyarakat menyebutnya sebagai belantara atau hutan. Sebenarnya bukan hutan dalam artian banyak pohon tetapi daerah Tundra di mana hanya pohon-pohon pendek yang bisa hidup. Kalau pernah ke Danau Habema, wilayahnya seperti itu. Hanya ada satu dua pohon pendek yang hidup.

Beberapa pengungsi berjalan dan hidup di daerah Tundra tersebut selama berminggu-minggu hingga sebulan lebih. Baik tua, muda maupun bayi harus hidup bertahan di alam yang ekstrim itu. Di daerah Tundra hampir tidak ada sumber makanan. Bayangkan selama sebulan lebih masyarakat Nduga harus bertahan hidup dengan makanan yang minim dan cuaca ekstrim.

Beberapa pengungsi meninggal dunia. Tiga bayi meninggal dunia dalam perjalanan di daerah Tundra tersebut. Sementara 4 orang ibu melahirkan dalam perjalanan. Entah berapa banyak orang yang dijemput maut sebelum bisa sampai ke tempat pengungsian.

Sudah sebulan lebih masyarakat sipil Nduga mengungsi. Mereka lari dari ancaman kematian yang didatangkan Negara ini ke hadapan rumahnya hingga merasuk ke dalam rumah. Beberapa rumah dibakar bahkan dengan penghuni di dalamnya. Ancaman itu nyata dan masyarakat lebih memilih mendekati ancaman yang diberikan alam daripada menghadapi ancaman manusia. Mereka lebih memilih untuk berdamai dengan alam daripada berjuang berdamai dengan manusia yang mengutamakan senjata.

Alam mungkin masih bermurah hati membiarkan sebagian masyarakat tiba di tempat tujuan pengungsian. Namun kehadiran masyarakat di tempat yang memungkinkan negara ini tahu bahwa ada yang lari dari kampungnya menghindari ancaman senjata malah tidak diperhatikan oleh negara ini. Pemerintah Daerah Nduga sudah berjuang. Pemerintah Daerah Provinsi Papua sudah berjuang juga. Namun, Nduga atau Papua seperti negara sendiri. Jakarta sebagai pusatnya Indonesia tak peduli. Jakarta hanya mengirim aparat dengan senjatanya. Presiden pun tak peduli, hanya perintah pengejaran TPN PB dan keberlanjutan proyek trans Papua yang pernah keluar dari mulutnya. Tak ada lembaga negara/kementerian yang turun ke Nduga seperti ketika Tolikara bergejolak pada Juli 2015. Tak ada pemerintah pusat yang sekadar melirik kondisi para pengungsi.

Nduga seperti sebuah negara sendiri. Pemerintah Daerahnya harus berjuang sendiri bersama masyarakatnya dan beberapa pihak yang peduli.

Kita mengutuk pembunuhan para karyawan PT Istaka Karya. Namun itu bukanlah alasan untuk melihat bahwa jatuhnya korban sipil Nduga sah-sah saja. Itu bukanlah alasan untuk membiarkan rakyat Nduga mengungsi tanpa perhatian negara.

Masihkah kita layak menyebut warga Nduga sebagai rakyat Indonesia?

Kita bisa membantu warga di Nduga sana di sini https://m.kitabisa.com/savenduga

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *